Si
D.
Pukul 12 siang, para mahasiswi tengah asyik bersembunyi
dari dekapan sang matahari. Mencari perlindungan pada deretan pohon cersen di
seberang gedung E5. Masing-masing membawa teh kotak di tangan. Malang terasa
lebih panas dari biasanya..
Aku dan salah satu temanku memilih duduk di depan ruang
101. Jam ke 7 akan dimulai 15 menit lagi. Masih ada waktu untuk tidak
terbengong-bengong dengan rumitnya pelajaran Akuntansi.
“ D,
beasiswa kamu udah keluar?” aku mencoba usaha.
“ Mmm,
nggak tau, kayaknya belom. Beasiswa ku nggak rutin keluarnya.”
“Oh..
gitu ya.” Jawabku agak
kecewa
“ Emang
kenapa?” Tanyanya sedikit
bingung
“ Ya
nggak papa, kan kalo keluar aku bisa ditraktir bakso! Hehe” Keluar sudah arah pembicaraanku.
“Huu..
dasar.” Jawabnya singkat.
“ Ya.. kan
lumayan, tiap bulan keluar Rp 600.000,00. Jadi nggak perlu minta lagi sama ortu
kan.”
“ Iya
sih, tapi..”
“Tapi?”
aku penasaran.
“ Tapi
uang beasiswa itu bukan cuma buatku” lanjutnya.
“
Lantas?”
“ Aku
cuma butuh separuhnya aja..” jawabnya sambil tersenyum.
“Ha??
Separuhnya lagi nggak kepake ya? Wah, asik buat jajan tu D! ayok, mau bakso,
soto, sate, ayam bakar, aku punya referensi yang bagus buat kita! Hehe.” Jawabku polos.
“
Bukan. Maksudku bukan itu..”
“
Teruss?” aku sedikit
bingung dengan jawabannya.
“ Jadi
separuhnya lagi buat keluargaku di rumah. Di Blitar sana. Di desaku, perempuan
seumurku kebanyakan nggak kuliah, Lan. Mereka lebih memilih kerja atau kawin.”
“ Oh
gitu, kalo di tempatku lumayan banyak sih yang kuliah D.” jawabku asal.
“ Iya,
tapi sejak dulu aku pengen banget bisa kuliah. Aku nggak pengen kayak mereka.
Aku pengen punya ilmu sebelum nantinya aku masuk dunia kerja.”
Aku mangut-mangut.
“
Mereka bilang, kuliah nggak ada gunanya. Sama saja. Ujung-ujungnya yang di cari
juga duit. Malahan kuliah ngabisin uang.
Ngrepotin orangtua. Sudah susah di tambah susah.”
“ Mm..” aku paham.
“Tapi
pas SMA, anggapan orang-orang itu justru memotivasiku buat kuliah, Lan. Karena
ada beasiswa Bidik Misi. Aku bertekad buat kuliah dengan biayaku sendiri. Tanpa
campurtangan ortuku. Selain itu, aku juga pengen menepis anggapan orang-orang
di desaku bahwa kuliah nggak bisa ngebantu ortu, justru ngrepotin ortu. Karenanya,
separuh uang beasiswa ku itu, aku kirim buat ortuku, buat biaya sekolah
adek-adekku. Biar mereka seneng, dan nggak khawatir disini aku kekurangan biaya
buat kuliah dan makan. Aku pengen membuktikan kalau dulu pilihanku buat kuliah,
bukan lantas kerja ataupun kawin itu tepat. Gitu…”
“Subhanallah..” Seketika wajahku berubah.
Kami tersenyum.
***
Aku melihat perempuan ini layaknya perempuan lainnya. Namun
setelah mendengar ceritanya. Aku kagum! Sungguh! Perempuan yang patut untuk di
contoh. Tekadnya benar-benar ia jalankan. Bukan sekedar kata. Di jaman seperti
ini, siapa yang masih hidup dalam super hemat layaknya perempuan di sampingku
ini? Siapa yang benar-benar menggunakan uang pemberian pemerintah dengan
rincian yang sangat mulia? Keluarganya pun, sampai ikut merasakan..
Aku jadi malu pada diriku sendiri. Bapak, aku minta ini,
minta itu. Kemaren beli buku, uangnya diganti dong..!! Dengan pedenya aku sering mengatakan hal itu.
Malu! Malu! Malu! Harusnya aku lebih bijaksana. Aku minta ini itu, padahal?
Yang kuminta sebenarnya adalah cucuran keringat mereka..
Bapak, Ibuk, umurku sudah 20 tahun. Namun, aku belum bisa
memberikan apa-apa untuk kalian. Maafkan putrimu ini ya..
Hari ini aku belajar banyak dari D. Bagaimana menjadi manusia
yang senantiasa bersyukur atas pemberianNya, bagaimana kita memaksimalkan
potensi diri, bagaimana kita berani mengambil langkah dan resikonya, bagaimana
kita mencintai oranglain, dan bagaimana menjadi dewasa.
Sekian, dari ku dan D. Semoga bermanfaat..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar