Kamis, 26 April 2012

 Merindu


Walau mutiara telah terangkai . Ada kalanya benang akan putus
Lalu salah satu dari kita akan berusaha menyambungnya.Begitu seharusnya, dan seterusnya…
                Malam kian menghitam, bintang bermalas-malasan. Hanya satu dua tunduk lalu menghilang. Hujan meteor yang kabarnya terlihat, tak juga memunculkan tanda-tanda yang signifikan. Beberapa kucing terlihat asyik berkejar-kejaran di atap rumah. Mesra.. Layaknya pengantin baru. Hanya saja belum cukup umur menurutku. Masih cemeng.
                Kali ini tanahku tak terjamah hujan. Aromanya memang tak seharum biasanya. Tapi aku bersyukur senang karena langit terlihat lebih tegar dari biasanya. Aku tak perlu menghiburnya malam ini. Cukup duduk manis dengan tenang dan mendengarkan bisikan-bisikan yang dia suratkan lewat angin. Aku tahu, dan akan menemaninya sampai fajar menari dari balik pantai kita dulu.
                Jemariku seharusnya terisi jemarimu. Lalu kita saling meremas, merasakan energi yang ada ketika alat peraba kita menyatu… Lama, jemari ini kaku. Aku merindu jemari-jemari itu. Yang mampu menggetarkan dan menyejukkan. Sudah kuduga kita akan begini. Membiarkan kita meninggalkan kota kenangan demi masa tua. Ku kira aku mampu mengganti kenanganmu dengan hujan. Tapi kurasa sia-sia, saat kutengadahkan tanganku padanya. Aku baru sadar, tanganku tak mampu merengkuh airnya. Sela jemariku semakin dingin.. semakin rindu..

Sampai kapan, waktu membiarkan kita tenggelam. Sampai kapan ku dekap malam, hingga tiba-tiba kau muncul dengan wajah penuh cemburu…



Tidak ada komentar:

Posting Komentar