Merindu
Walau mutiara telah terangkai . Ada kalanya benang akan putus
Lalu salah satu dari kita
akan berusaha menyambungnya.Begitu seharusnya, dan seterusnya…
Malam kian menghitam, bintang bermalas-malasan. Hanya satu dua tunduk lalu menghilang.
Hujan meteor yang kabarnya terlihat, tak juga memunculkan tanda-tanda yang
signifikan. Beberapa kucing terlihat asyik berkejar-kejaran di atap rumah.
Mesra.. Layaknya pengantin baru. Hanya saja belum cukup umur menurutku. Masih
cemeng.
Kali ini tanahku tak terjamah hujan. Aromanya memang tak seharum biasanya. Tapi
aku bersyukur senang karena langit terlihat lebih tegar dari biasanya. Aku tak
perlu menghiburnya malam ini. Cukup duduk manis dengan tenang dan mendengarkan
bisikan-bisikan yang dia suratkan lewat angin. Aku tahu, dan akan menemaninya
sampai fajar menari dari balik pantai kita dulu.
Jemariku seharusnya terisi jemarimu. Lalu kita saling meremas, merasakan energi
yang ada ketika alat peraba kita menyatu… Lama, jemari ini kaku. Aku merindu
jemari-jemari itu. Yang mampu menggetarkan dan menyejukkan. Sudah kuduga kita
akan begini. Membiarkan kita meninggalkan kota kenangan demi masa tua. Ku kira
aku mampu mengganti kenanganmu dengan hujan. Tapi kurasa sia-sia, saat
kutengadahkan tanganku padanya. Aku baru sadar, tanganku tak mampu merengkuh
airnya. Sela jemariku semakin dingin.. semakin rindu..
Sampai kapan, waktu
membiarkan kita tenggelam. Sampai kapan ku dekap malam, hingga tiba-tiba kau
muncul dengan wajah penuh cemburu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar