Sosok itu kembali
muncul. Perlahan-lahan, merengkuh seluruh anggota badanku. Mendekap erat.
Merasuk kedalam jiwaku. Menyatu, melebur bersama aliran darah. Sialnya, darah
itu telah mengalir disetiap penjuru. Mencoba berkuasa atas ragaku. Aku ingin
melolong. Namun di sisi lain aku ingin tertawa terbahak-bahak. Siapa pula
dalang dari kekacauan ini? Kakiku ingin
kutendang-tendang, tanganku ingin mengoyak segala sesuatu yang bukan milikku.
Dan otakku? Jangan lagi ditanya. Aku merasa risih dengan keberadaan mereka,
mereka cuma akan mengganggu kebiasan baruku ini. Aku merasa benci pada
siapapun! Serta kurasa, orang-orang sekitar mulai membenciku. Serah! Aku gak ingin
begitu peduli pada perubahan mereka. Ya, tak terkecuali padanya. Sempat ku
teriyaki dia, kusalah-salahkan dia. Untunglah, dia pria dewasa yang baik hati.
Kami tak jadi bertengkar, karena dia memilih lebih dulu minta maaf. Dan hatiku
luluh..
Tapi!! Aku tetap merasa dipeluk. Ku coba melafalkan
ayat-ayatNya. Pelukan ini… serasa lepas, serasa meleleh bersamaan dengan
ayat-ayat yang kubaca.. Aku menangis.. tak ingin kuhentikan ayat ini. Aku
takut.. Aku takut dia memelukku lagi, merengkuhku lagi.. Sosok itu, muncul, lalu
pergi,
lalu muncul lagi,
pergi..
dan muncul…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar