Jumat, 20 April 2012

Sosok yang pulang pergi




 Sosok itu kembali muncul. Perlahan-lahan, merengkuh seluruh anggota badanku. Mendekap erat. Merasuk kedalam jiwaku. Menyatu, melebur bersama aliran darah. Sialnya, darah itu telah mengalir disetiap penjuru. Mencoba berkuasa atas ragaku. Aku ingin melolong. Namun di sisi lain aku ingin tertawa terbahak-bahak. Siapa pula dalang  dari kekacauan ini? Kakiku ingin kutendang-tendang, tanganku ingin mengoyak segala sesuatu yang bukan milikku. Dan otakku? Jangan lagi ditanya. Aku merasa risih dengan keberadaan mereka, mereka cuma akan mengganggu kebiasan baruku ini. Aku merasa benci pada siapapun! Serta kurasa, orang-orang sekitar mulai membenciku. Serah! Aku gak ingin begitu peduli pada perubahan mereka. Ya, tak terkecuali padanya. Sempat ku teriyaki dia, kusalah-salahkan dia. Untunglah, dia pria dewasa yang baik hati. Kami tak jadi bertengkar, karena dia memilih lebih dulu minta maaf. Dan hatiku luluh..
            Tapi!! Aku tetap merasa dipeluk. Ku coba melafalkan ayat-ayatNya. Pelukan ini… serasa lepas, serasa meleleh bersamaan dengan ayat-ayat yang kubaca.. Aku menangis.. tak ingin kuhentikan ayat ini. Aku takut.. Aku takut dia memelukku lagi, merengkuhku lagi.. Sosok itu, muncul, lalu pergi,
lalu muncul lagi,
pergi..
dan muncul…

lalu pergi..

pergi…

lah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar