Selasa, 23 Juli 2013

Yang Telah Hilang


           
          Aku menyesal. Ketika bertahun-tahun yang lalu bersamamu namun tak pernah bisa mengatakan “aku mencintaimu”. Padahal kita sangat dekat. Sedekat jari telunjuk dan jari tengah. Adalah bohong jika aku tak pernah punya firasat, aku merasakannya. Saat kau bonceng aku dibelakang dan kita menyusuri jalanan panjang, ku rengkuh pinggang kamu seperti tak ingin pergi. Ku dengarkan semua nasehatmu baik-baik, ku rasakan setiap hembusan nafasmu yang teratur, memecah deru motor yang membawa ku lari meninggalkanmu. Dan pagi itu aku merasakannya… 
          Jalan, jembatan, sawah, matahari, embun dan dingin menjadi sahabat kita kala itu. Kita sangat dekat. Dan aku merasa tak ingin pergi. Tetap disisni, dibelakangmu sambil memegang tubuhmu yang terbalut jaket abu. Bahkan bersamamu aku tak tahu apa itu dingin dan takut. Yang kurasakan aku akan baik-baik saja jika kamu disisiku. Dan jalan yang semakin dekat membuatku risau, karena rasaku tiba-tiba muncul dan mengatakan ini adalah waktu terakhir dimana kau mengantar kepergianku.
          Aku masih ingat, ketika kau berdiri di dekat sepeda motor sambil tersenyum dan melihatku duduk di balik jendela bus. Aku kaget ketika kamu melambaikan tangan, tak seperti biasanya. Dan aku semakin merasakannya…
          Bodohnya aku ketika memilih pergi. Namun tak bisa kubohongi, dalam bus aku bersusah payah menenangkan diri. Kubayangkan tiba-tiba aku menyetop sopir bus dan bilang aku mau turun disini, lalu berlari sekencang-kencangnya, menuju kamu. Merengkuh kamu dan bilang “aku sangat mencintaimu!”
          Kamu pergi terlalu jauh, sekarang. Dan aku tak bisa lagi menempuh jarak kita untuk bertemu. Aku tak tahu apakah kamu bahagia denganku, dengan kita dan semua yang kita miliki. Jika aku bisa bertemu kamu dalam mimpi, akan kukatakan “aku sangat sangat mencintaimu…” atau akan kutitipkan salamku ini pada Rabb-ku.

 Minggu 11.20 pm
Ingin cepat tidur dan memimpikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar