Aku
menyesal. Ketika bertahun-tahun yang lalu bersamamu namun tak pernah bisa
mengatakan “aku mencintaimu”. Padahal kita sangat dekat. Sedekat jari telunjuk
dan jari tengah. Adalah bohong jika aku tak pernah punya firasat, aku
merasakannya. Saat kau bonceng aku dibelakang dan kita menyusuri jalanan
panjang, ku rengkuh pinggang kamu seperti tak ingin pergi. Ku dengarkan semua
nasehatmu baik-baik, ku rasakan setiap hembusan nafasmu yang teratur, memecah
deru motor yang membawa ku lari meninggalkanmu. Dan pagi itu aku merasakannya…
Jalan,
jembatan, sawah, matahari, embun dan dingin menjadi sahabat kita kala itu. Kita
sangat dekat. Dan aku merasa tak ingin pergi. Tetap disisni, dibelakangmu
sambil memegang tubuhmu yang terbalut jaket abu. Bahkan bersamamu aku tak tahu
apa itu dingin dan takut. Yang kurasakan aku akan baik-baik saja jika kamu
disisiku. Dan jalan yang semakin dekat membuatku risau, karena rasaku tiba-tiba
muncul dan mengatakan ini adalah waktu terakhir dimana kau mengantar
kepergianku.
Aku
masih ingat, ketika kau berdiri di dekat sepeda motor sambil tersenyum dan
melihatku duduk di balik jendela bus. Aku kaget ketika kamu melambaikan tangan,
tak seperti biasanya. Dan aku semakin merasakannya…
Bodohnya
aku ketika memilih pergi. Namun tak bisa kubohongi, dalam bus aku bersusah
payah menenangkan diri. Kubayangkan tiba-tiba aku menyetop sopir bus dan bilang
aku mau turun disini, lalu berlari sekencang-kencangnya, menuju kamu. Merengkuh
kamu dan bilang “aku sangat mencintaimu!”
Kamu
pergi terlalu jauh, sekarang. Dan aku tak bisa lagi menempuh jarak kita untuk
bertemu. Aku tak tahu apakah kamu bahagia denganku, dengan kita dan semua yang
kita miliki. Jika aku bisa bertemu kamu dalam mimpi, akan kukatakan “aku sangat
sangat mencintaimu…” atau akan kutitipkan salamku ini pada Rabb-ku.
Minggu 11.20 pm
Ingin
cepat tidur dan memimpikannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar